logo

Membagi Waktu

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1040

Membagi Waktu

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

           Dalam satu hari, kita memiliki durasi waktu 24 jam dan kita mesti pintar untuk mengatur serta membaginya seefisien dan seefektif mungkin. 

           Kita sering terjebak tidak mampu membedakan antara bekerja, istirahat dan " _bermain_". Yang sering terjadi adalah di saat bekerja kita gunakan untuk bermain demikian pula yang mestinya waktu istirahat dipakai bermain.

           Padahal dalam Al Qur'an, Tuhan sendiri mengingatkan betapa pentingnya waktu tersebut, sampai Tuhan bersumpah dengan _wal 'ashri_(demi waktu), _wal laili_ (demi malam), _wan nahari_(demi siang) _wal fajri_ (demi fajar), _wadl dluha_(demi waktu dzuha) dan banyak lagi.

           Semua orang pasti ingin hidupnya sukses baik dari segi materi, jiwa dan raga, keluarga maupun sosial.  

           Kesuksesan dalam arti yang sempit dapat diibaratkan seperti perlombaan, di mana ada yang berhasil meraih suatu tujuan sehingga dia disebut sukses. Di sisi lain ada juga yang tidak berhasil meraihnya sehingga disebut gagal. Begitulah kehidupan yang digambarkan oleh dunia ini.

          Paradoks Waktu.

          Sebagian besar orang rata-rata akan menjalani keseharian menjadi tiga bagian utama yaitu masing-masing delapan jam untuk bekerja, istirahat, dan delapan jam sisanya untuk mengejar keinginan dan harapan-harapan kita. 

            Jika melihat dari pembagian waktu di atas, kita tidak bisa lagi menawar bahwa delapan jam pertama akan kita habiskan untuk bekerja bila kita adalah seorang karyawan di suatu instansi, organisasi atau perusahaan. Waktu istirahat selama delapan jam adalah waktu yang ideal bagi sebagian besar orang karena ini akan mempengaruhi produktivitas dalam melakukan seluruh aktivitas kita. Lalu, bagaimana dengan sisa delapan jam yang masih kita miliki? Inilah waktu krusial yang sangat sering  melenakan kita. Yang paling banyak digunakan adalah bermain game dengan _smartphone_ nya.

            Manakah yang menjadi dominasi kegiatan untuk menghabiskan sisa delapan jam tersebut? Jangan lupa bahwa angka delapan jam tersebut bisa saja tidak secara garis lurus dalam rentang waktu yang sama. Misalnya delapan jam lebih banyak terselip di antara kegiatan bekerja dan beristirahat, karena setiap orang memiliki gayanya masing-masing. Ada tipe orang yang lebih aktif di pagi dan siang hari, ada juga tipe orang yang lebih aktif di malam hari. 

            Optimalisasi Delapan Jam Sisa 

            Dalam buku yang berjudul _The Other 8 Hours_ , Robert Pagliarini menuliskan bahwa untuk dapat memaksimalkan delapan jam tersisa dalam hidup, kita harus menilik kembali waktu yang dialokasikan sehari-hari dimulai dari bangun pukul 05.00 pagi sampai dengan saat kita kembali tidur di malam hari. Merenungkan dan merencanakan apa yang akan kita lakukan esok hari, akan membuat kita sadar bahwa banyak waktu yang sebenarnya kita buang tanpa ada arti yang belum kita optimalkan. Kita mesti bijak untuk tidak terjebak dalam kegiatan rutinitas, yang secara gamblang disebut _Hidup namun Mati_. 

           Melakukan sesuatu yang biasa dengan cara yang luar biasa atau berbeda akan membangkitkan rasa antusias terhadap suatu pekerjaan, terlebih bila kita mengingat kembali dampak dari pekerjaan yang kita lakukan untuk kebaikan yang lebih besar. Kebaikan besar yang dimaksud, dapat diartikan juga mimpi-mimpi besar yang ingin kita raih dalam kehidupan yaitu kesuksesan.

           Jika kita bermimpi ingin memiliki _workshop_ yang sukses maka maksimalkanlah delapan jam sisa dalam hidup.   

           Jika memiliki impian untuk menjadi pendiri usaha _cafe_ kopi  yang dikenal banyak orang, maka fokuskanlah hal-hal untuk mewujudkannya dalam delapan jam sisa hidup kita tersebut. 

         Dengan memaksimalkan delapan jam sisa waktu bebas, maka kita dapat mengerjakan banyak hal yang akan menjadi _pondasi_ kehidupan yang lebih baik secara materi maupun pemenuhan diri yang pada akhirnya akan berdampak lebih luas untuk masyarakat.

           Mengubah Paradigma Konsumen Menjadi Kreator

           Salah satu pemikiran sederhana untuk dapat mengoptimalkan waktu yang kita miliki adalah dengan mengubah _pardigma_ dari yang sebelumnya sebagai _konsumen_ , menjadi _kreator_. Apapun dapat kita hasilkan, karena kita pasti memiliki _talenta_ dan kesukaan terhadap suatu hal.   

           Mengekspresikan kemampuan kita dalam bentuk produk yang bermanfaat bagi orang lain tentu akan _memenuhi self-esteem_ atau pemenuhan diri yang sejati (gambaran diri yang positif). Jika kita membidangi ekonomi, kita menjadikan keahlian tersebut untuk berbagi pandangan melalui tulisan yang dapat membuka wawasan bagi banyak orang. Atau jika kita seorang yang pintar dalam menyulam kain, kita dapat membuat rajutan yang sesuai dengan ide-ide segar yang ada dalam pikiran. Juga bila kita punya hobi menulis, jangan hanya jadi penikmat wacana, tapi biasakan untuk rajin menulis. Semuanya tentu dilakukan sesuai dengan mimpi yang diharapkan. Dikenal banyak orang sebagai _ekonom_ atau menjadi pengusaha sulam kain _karawo_ yang sukses, atau menjadi penulis buku buku. Kata-kata “Fokus pada apa yang menjadi _passion_ kita” sudah sering kita dengar, namun tekun mengerjakannya untuk mimpi yang lebih besar, sering terlewatkan bagi kita.

            Mulailah pada langkah yang sederhana, menjadi seorang kreator, mulailah pada waktu yang paling tepat yaitu saat ini. Investasikan waktu sisa delapan jam tersebut dengan lebih bijaksana. Orang barat bilang, _time is money_ waktu adalah uang, orang Arab terkenal dengan kalimat _al waqtu kas shoif_ waktu ibarat pedang dan waktu hanya berdimensi dua maju atau mundur.

 _Wallahu a'lam bi showab_ 

 _Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi wa sallim ajma'in_ 









Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022