JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Khutbah Idul Fitri 1439 H | Memperkuat Sillaturrahim dengan akhlaq mulia dan jiwa kesatria

Pengumuman
Typography

Memperkuat Sillaturrahim

dengan akhlaq mulia dan jiwa kesatria

Khutbah Idul Fitri 1439H

اَلْحَمْدُ ِللهِ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلاَ اَنْ هَدَانَا الله ُ أَشْهَدُأَنْ لاَّ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيـُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

اللهُ أَكْبَرُ (×9) لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Ma`aasyiral muslimiin rahimakumullaah:

Alhamdulillah, puja puji dan syukur kita haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan rahmatNya kepada kita semua, sehingga sebulan yang baru lewat, kita telah dapat menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan dan pada hari yang bahagia ini kita semua bisa melangkahkan kaki menuju tempat sholat ini, setelah semalam suntuk kita lafadzkan tahmid, tahlil dan takbir, mengagungkan nama Allah Azza Wa Jalla.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Boleh jadi di antara kita yang kini bersimpuh melaksanakan ibadah dalam rangkaian Idul Fitri kali ini, datang dari tempat yang jauh, datang ber-idul fitri sekalian bersilaturahim dengan orang tua, sanak keluarga dan handai-tolan, sekaligus melebur dosa dengan saling meminta maaf atas segala salah dan khilaf.

Kalau kita kumpul dengan penuh kebahagiaan seperti ini, mengingatkan kita akan sabda Nabi SAW:

تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَا اشْتَكٰى عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمٰى (رواه البخاري ومسلم).

Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang beriman saling menyayangi, saling mencintai dan saling mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka bagian anggota yang lain ikut merasakan sakit, tidak dapat tidur, dan tubuhpun menjadi panas” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Mudah-mudahan suasana persaudaraan, kekeluargaan dalam semangat peribadatan semacam ini senantiasa dapat kita pertahankan di negeri yang kita cintai ini.

Ma`aasyiral muslimiin rahimakumullaah:

Kebiasaan bersilaturrahim tersebut harus senantiasa kita hidup suburkan, sekaligus untuk saling memita maaf dan ampunan, karena kita tentu menyadari sebagai manusia yang tidak lepas dari salah dan kekhilafan, lebih-lebih jika kesalahan kita itu terjadi terhadap orang tua atau pada orang yang dituakan.

Nabi Muhammad SAW sendiri telah mengingatkan akan kelemahan diri kita sebagai makhluk yang tidak luput dari kesalahan, dalam sabdanya demikian:

كُلُّ ابْنِ أٰدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ (أخرجه ابن أبي شيبة، وأحمد، والترمذي، وابن ماجه)

Artinya: “Setiap anak cucu Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang pernah berbuat salah adalah mereka yang bertaubat”. (Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Kesalahan itu bisa terjadi/ dilakukan oleh manusia kepada Tuhannya, atau kepada sesama manusia, bahkan kepada alam. Dosa kepada Tuhan, mungkin bisa dihapus dengan tobat dan istighfar, tetapi dosa kepada sesama manusia harus dimulai dengan meminta maaf dan kerelaan dari mereka yang didholimi.

Tidak sedikit orang yang telah berbuat kesalahan enggan meminta maaf/ ampunan, hanya karena soal gengsi, takut jatuh/ kehilangan martabat dan harga diri, sehingga kesalahnnya dibawa mati. Padahal itu akan merepotkan, bahkan bisa membrangkrutkan dirinya di hadapan pengadilan Tuhan, sebab pahalanya akan dipotong sebagai tebusan akan kedholimannya pada sesama insan.   Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ر.ض. أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا : الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَاْتِيْ وَقَدْ شَتَمَ هٰذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا وَضَرَبَ هٰذَا، فَيُعْطٰى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَ هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِيْ النَّارِ (رواه مسلم).

 

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Bersabda Rasulullah s.a.w.: Tahukah kamu siapakah orang yang pailit itu? Jawab sahabat: Orang yang pailit, yaitu orang yang jatuh bangkrut dagangannya, hingga habis semua kekayaannya, baik uang maupun harta bendanya. Bersabda Nabi: Sesungguhnya orang yang pailit dari ummatku yaitu orang yang datang pada hari kiyamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat-nya. Tetapi di samping itu ia (juga membawa dosa karena) mencaci maki, menuduh dan makan harta orang lain, serta menumpahkan darah dan memukul orang lain, maka diberikan kebaikan (pahala) amalnya, pada orang-orang yang didholiminya itu, dan apabila telah habis kebaikan (pahala) nya sedang belum terbayar semua tuntutan orang-orang lainnya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang pernah didholiminya itu untuk ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka” (Hadits riwayat Muslim).

Muslim yang baik adalah yang berjiwa kesatria, berani minta maaf jika melakukan salah dan alpha.  Bukan malah mencari-cari alasan pembenar, sebab jika yang terakhir ini yang dilakukannya, maka untuk menutup-nutupi kesalahannya malah bisa mendorong yang bersangkutan untuk menambah dosa dengan fitnah dan kebohongan.

Problem mungkin bisa terjadi jika ada 2 (dua) pihak yang bertengkar sama-sama merasa benar. Lalu siapa yang sebaiknya membuka jalan perdamaian? Dalam hal ini Rasulullah SAW memberikan suatu pedoman:

لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هٰذَا وَيُعْرِضُ هٰذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِيْ يَبْدَأُ بِالسَّلامِ (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: “Tidak dihalalkan seorang muslim membaikot saudaranya lebih dari tiga hari, kalau berjumpa yang satu membuang muka ke sana dan yang satu membuang muka ke sini, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang pertama kali mengucapkan salam (mengulurkan tangan perdamaian).” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits yang lain dinyatakan:

لاَ يَحِلُّ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَهْجُرَ مُؤْمِنًا فَوْقَ ثَلاَثٍ، فَإِنْ مَرَّتْ بِهِ ثَلَاثٌ فَلْيَلْقَهُ وَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَإِنْ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَدِ اشْتَرَكَا فِيْ اْلأَجْرِ، وَإِنْ لَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ فَقَدْ بَاءَ بِاْلإِثْمِ وَخَرَجَ الْمُسَلِّمُ مِنَ الهِجْرَةِ (رواه ابوداود)

Artinya: “Tidak dihalalkan seorang mukmin membaikot seorang mukmin lebih dari tiga hari, maka jika telah tiga hari harus ditemui dan diberi salam, maka kalau mau menjawab salamnya berarti keduanya telah bersekutu dalam pahala, dan kalau tidak mau menjawab salam, maka ia (yang tidak mau menjawab salam tersebut) telah memborong dosa, dan terlepas yang memberi salam dari dosa pembaikotan” (Hadits riwayat Abu Dawud).

Betapa indahnya jalan keluar yang ditawarkan Nabi kepada kita ummat-nya jika sampai terjadi perselisihan yang berakibat tidak saling bertegur sapa. Sungguh kalau resep ini dipraktekkan dalam kehidupan, rasanya sangat indah pergaulan, tidak ada perselisihan yang menajam, kalau resep itu dipraktekkan dalam rumah tangga muslim, maka akan turun drastis angka perceraian, kalau hal ini dipraktekkan dalam adab pergaulan di masyarakat, maka tidak akan terjadi tawuran masal yang akhir-akhir ini sering terjadi dan mengerikan, apalagi jika para pembesar negeri ini berani mempelopori membumikan resep ini, maka tidak ada kegaduhan-kegaduhan dan saling hujat yang akhir-akhir ini sering terjadi dan menjadi tontonan yang tidak menyenangkan.

Akan tetapi dalam praktek kehidupan, mempertahankan gengsi sering menutup jalan menuju kebenaran dan perdamaian. Persis seperti yang pernah dilakukan oleh setan (iblis), saat ia diperintahkan oleh Allah untuk sujud/ memberikan penghormatan kepada Adam, ia menolak dan enggan, karena merasa dirinya lebih hebat ketimbang Adam, sebab dia diciptakan dari api sedang Adam diciptakan dari tanah.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (الأعراف: 12)

Atinya: “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Egkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al A’raf:12).

Kesombongan setan yang demikian melahirkan gengsi yang teramat tinggi, akibatnya ketika ia dimarahi Allah karena menolak perintah yang telah dititahkan, ia tidak segera tobat meminta ampunan, tetapi jutru malah bersumpah untuk menggoda dan menjerumuskan manusia dari kebenaran.

Memang bersikap kesatria berani mengakui kesalahan kemudian meminta maaf secara jantan bukan pekerjaan ringan, dalam praktek di lapangan, betapa banyak koruptor yang telah ditangkap tangan kemudian diadili dan divonis bersalah sehingga mendapatkan hukuman yang setimpal, ternyata masih tetap membela diri dan tidak mengakui kesalahan. Dan dalam hal ini amat langka koruptor di hadapan Pengadilan berani berterus-terang mengakui kesalahan sembari minta maaf kepada rakyat, seperti yang terjadi pada mantan Kepala Desa Klodran Kec. Colomadu Kab. Karanganyar yang mengaku bersalah telah menilep dana APBD sebesar 285,9 juta, dan kemudian kepada hakim ybs. mohon untuk dijatuhi kumuman yang berat dalam rangka tobat, yang selanjutnya setelah divonis hakim pada tanggal 14 Maret 2011 dengan pidana penjara 1 tahun 2 bulan, kini setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan, ia hidup tenang sebagai pedagang kecil-kecilan.

Dalam hadits riwayat Muslim, dikisahkan ada seorang laki-laki benama Ma’iz, mengaku telah berzina, dan dalam rangka bertobat mohon agar dirinya dijatuhi hukuman. Dalam kesempatan lain ada pula seorang perempuan Ghamidiyah, yang juga mengaku telah berzina bahkan telah hamil yang dalam rangka bertobat juga mohon dijatuhi hukuman. Beberapa kali Rasulullah SAW menunda melaksanakan permintaannya dengan memberi kesempatan untuk berfikir ulang, tetapi baik Ma’iz maupun perempuan Ghamidiyah tersebut tetap mengakui kesalahannya dan mohon segera dijatuhi hukuman.

Tentu di saat keadaan masyarakat kita seperti ini, teramat sulit mendapati orang berjiwa kesatria seperti demikian, yang sering kita dapati adalah banyaknya penjahat yang lari tunggang langgang sambil melempar kesalahan saat mereka dikejar oleh aparat penegak keadilan.

Apalagi jika gengsi telah menguasai orang yang sedang berebut kekuasaan, maka yang menjadi akibatnya tentu bukan kokohnya persatuan tetapi perselisihan dan perpecahan, dan keadaan seperti itulah yang sebenarnya selama ini dikehendaki oleh setan, dan dalam hal ini Rasulullah SAW telah memberikan peringatan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّوْنَ فِيْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَلٰكِنْ فِيْ التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ (رواه مسلم)  

 

Artinya: “Sesungguhnya setan telah putus harapan untuk disembah kembali di jazirah Arab, tetapi ia tidak putus harapan untuk merusak hubungan antara yang satu dengan yang lainnya” (Hadits riwayat Muslim).

Ternyata rusaknya hubungan silaturrahim sesama manusia adalah menjadi target busuk setan, karena dengan rusaknya hubungan maka yang terjadi adalah perselisihan dan perpecahan, dan jika masyarakat ataupun suatu bangsa telah berlarut-larut dalam perselisihan dan perpecahan, maka yang akan menjadi akibatnya adalah kekacauan dan kehancuran.

Oleh karenanya mari kita perhatikan wanti-wanti Rasulullah SAW kepada kita, yang menyuruh kita untuk senantiasa menjaga tali sillaturahim, dan menyebutkan tak akan masuk surga bagi yang memutuskannya :

 

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ، يَعْنِيْ قَاطِعُ رَحِمٍ (متفق عليه).

 

Artinya: “Tidak akan masuk sorga sang pemutus, yakni pemutus silaturrahim” (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim).

Bahkan mereka yang tidak bisa mewujudkan rasa kasih sayang, belum dianggap sempurna imannya, sebagaimana sabdanya berikut ini:

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّٰى يُحِبَّ لِأَخِيْـهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري)

 

Artinya: “Belum sempurna iman kalian, sehingga kalian dapat mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri”.(Hadits riwayat Bukhori).

Itulah sebabnya ketika beliau ditanya tentang perihal seorang wanita yang ahli ibadah tetapi berperangai buruk pada tetangganya, dijawabnya bahwa tempatnya di neraka, sebagaimana hadits berikut ini:

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ر.ض. قَالَ: قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلَانَةً تُصَلِّيْ الَّيــْــلَ وَتَصُومَ النَّهَارَ وَفِيْ لِسَانِهَا شَيْءٌ تُؤْذِيْ جِرَانَهَا سَلِيْطَةً، قَالَ "لَاخَيْرَ فِيْهَا، هِيَ فِيْ النَّارِ"، وَقِيْلَ لَهُ: فُلَانَةٌ تُصَلِّيْ الْمَكْتُوْبَةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَتَصَدَّقَ بِالْأَثْوَارِ وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَلَا تُؤْذِيْ أَحَدًا، قَالَ: "هِيَ فِيْ الْجَنَّةِ. وَفِيْ لَفْظٍ وَلَاتُؤْذِيْ بِلِسَانِهَا جِيْرَانَهَا" (اخرجه أحمد).

Artinya: “Dari Abu hurairah r.a. dia berkata: ‘Dikatakan kepada Nabi s.a.w.: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fualanah (wanita) rajin shalat malam dan puasa pada siang hari, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lesannya”, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka”. Lalu ditanyakan lagi pada beliau: “Fulanah (wanita) yang lain rajin shalat fardlu, gemar bersedekah dengan sepotong keju dan dia tidak punya yang lain selain itu, dan tidak pernah menyakiti seorang-pun”. Maka beliau menjawab: “Dia termasuk penduduk surga”. Dan dalam lafadz yang lain lesannya tidak menyakiti tetangganya” (Hadits riwayat Ahmad).

Untungnya tempat untuk wanita yang pertama tadi oleh Nabi hanya disebutkan “di neraka” bukan di neraka selama-lamanya.

Maka jika kita ingin menjaga dan memperkuat sillaturrahim, perlu membiasakan diri dengan akhlaq yang mulia, dan jiwa kesatria berani minta maaf jika melakukan kesalahan dan suka memaafkan kesalahan sesamanya.

Akkhirnya marilah kita panjatkan do’a ke hadirat Allah Yang Maha Rahman, memohon ampunan dan pertolongan:

“Ya Allah, Penguasa alam semesta. Hari ini kami datang bersimpuh di hadapanMu, memohon ampun atas segala khilaf dan kesalahan, karena kami tahu Engkaulah Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

  • “Ya Allah, jadikan kami sebagai insan yang mampu bersabar menghadapi segala ujian dan problematika kehidupan. Dan jadikan kami insan yang punya keberanian untuk meminta maaf atas segala salah dan khilaf kepada sesama, serta suka memaafkan dengan menggusur rasa dendam, serta mampu menebarkan kasih sayang sehingga bisa mewujudkan kehidupan yang damai penuh iman dan ketaqwaan”.
  • ‘Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, zakat kami, dan seluruh amal ibadah kami, sebagai amalan yang Engkau ridhoi”.
  • “Ya Allah, ampuni pula dosa kami, dosa orang tua kami, dan dosa seluruh isi rumah tangga kami, serta dosa saudara kami yang beriman, dan jadikan kami dan mereka ahli sorga semuanya”.
  • “Ya Allah, kabulkanlah do’a kami, aamiin yaa Robbal aalamiin”.

        Gorontalo: 1 Syawal 1439H

H.Moh.Munawar

 

Dowload Versi pdf di sini

Anti Korupsi