Berpikir Positif

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1244

Berpikir Positif

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

           Hari ini adalah hari pertama kerja di masing-masing unit baik di pemerintah maupun swasta, setelah sepekan sebelumnya kita disibukkan dengan nataru, kini roda aktivitas berjalan normal kembali dan kita bergelut lagi dengan tugas pekerjaan sehari-hari. Sungguh relevan kita memulai dengan menyegarkan kembali kata-kata Imam Syafi'i r.a, sebagai berikut

"Siapa yang telah mengenal Allah swt, niscaya akan dapat mengangkat langit dan bumi dengan bulu mata-matanya, siapa yang tidak mengenal Allah swt, maka seandainya seekor nyamuk bergantung pada dirinya, niscaya ia akan ribut". Perkataan ini sangat dalam artinya, namun kita dapat mengambil hikmah jika kita kadar keimanan terhadap Allah swt tipis bahkan nyaris tak beriman, sesuatu yang sangat sepele jadi masalah besar bagi orang itu.

            Oleh karena itu sangat penting memahami berpikir positif dalam Islam. Berpikir positif adalah berprasangka baik (_husnudzan_) kepada Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.

            Berfikir positif dalam islam sendiri, tercantum dalam Al-Quran “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarh: 216). Selain itu, Nabi Muhammad saw, juga menjelaskan bahwa, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” (HR.Muslim).          Dari ayat dan hadits tersebut kita mengetahui bahwa _husnudzan_ dapat membentuk keimanan yang kokoh, meningkatkan kualitas hidup, dan mempererat hubungan sosial.

            Berpikir positif ( _positive thinking_ ) dalam Islam, yang paling penting adalah menyandarkan segala sesuatu mutlak hanya kepada Allah swt semata. Tidak menggantungkan keinginan dan aktivitas kita kepada selainNya (makhluk). Sebagaimana Nabi saw menyampaikan  " _ana 'inda dzanni 'abdi_ " Aku menyesuaikan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Sebagai manusia apalagi menyandang sifat lemah, maka sangat diharamkan berprasangka buruk kepada Allah swt.

           Termasuk berprasangka baik kepada Allah adalah  meyakini takdir Allah yang baik dan takdir Allah yang buruk. Dalam setiap detik kehidupan kita tidak akan pernah terlepas dari takdir dan ketentuan Allah, tidak ada manusia yang selamanya akan hidup bahagia atau selamanya hidup menderita, "_tilkal ayyamu nudawiluha bainan nas_" manusia selalu berada dalam kondisi _up and down_, jika kita selalu menginginkan berada dalam kenyamanan berarti diri kita masih diliputi hawa nafsu dan kita pasti dikelilingi kekhawatiran. 

           Bagian yang urgen dalam berpikir positif adalah  selalu bersyukur terhadap apa yang kita alami dan kita miliki sekecil apapun, kita senantiasa selalu bersabar dalam menghadapi cobaan dan ujian.

           Husnudzan pada diri sendiri, penting kita menyadari bahwa terhadap diri kita sendiri hendaklah berpikir positif, yaitu

percaya diri atas kemampuan yang Allah berikan. Kira ini pasti memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Memiliki keebihan dan kekurangan masing-masing. Segala sesuatu memiliki keistimewaan "_likulli syai'un maziyyatun_ ".

           Ketika kita memahami setiap kita memiliki kelebihan dan kekurangan, kita mudah mengakui bahwa kelemahan merupakan bagian dari proses perbaikan diri. Permasalahannya adalah memahami, betapa sulit bagi setiap individu untuk mengakui kelemahan yang ada dalam dirinya. 

           Berpikir positif selanjutnya adalah, husnudzan pada orang lain. Banyak di antara kita meng _under estimate_ terhadap orang lain, menganggap orang lain di bawah kita. Sungguh ini sikap yang sangat tercela, jangan sekali- kali menganggap orang lain remeh. Karena ini penyakit hati yang paling berbahaya. Karena di sana ada perasaan _ujub_ (bangga), _riya_ (pamer), _sum'ah_ (dikenal) dan _takabur_ (sombong). Padahal kita tahu sifat-sifat itu adalah pakaian Allah swt.

           Berprasangka baik bertujun untuk menjaga _ukhuwah_(persatuan) juga menjaga kesetaraan (_egaliter_) di antara kita.    Menciptakan persatuan itu tidak mudah, akan tetapi merawat persatuan lebih sulit. Oleh karena itu kita harus mempunyai cara bagaimana memelihara kondusifitas persatuan itu, dengan _husnudzan_.  

          Pada era teknologi yang canggih dan cepat ini, media sosial menjadi _tool_ yang sangat mudah untuk menyebar _ghibah_, fitnah keji, yinyir dan _hoax_. Perilaku caci maki, kebencian dan sumpah setapak, hari ini sedemikian masif di media sosial, baik berskala lokal, nasional bahkan sudah dikendalikan oleh jaringan internasional. Oleh karena itu, solusi efektif satu-satunya adalah dengan _husnudzan_(Berpikir positif) dan menjauhi _su'udzan_(berpikir negatif).

          Akhirnya, dengan berpikir positif, kita akan lebih mudah mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

 _Wallahu a'lam bi showab_ 

 _Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi wa sallim ajma'in_