Esensi Tahun Baru adalah Syukur
Esensi Tahun Baru adalah Syukur
oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.
Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo
Hari ini adalah tanggal 31 Desember 2024 yang merupakan penghujung akhir tahun yang sebentar lagi akan kita tinggalkan selama-lamanya. Tentu selama satu tahun, telah memberi kenangan, baik manis atau pahit dalam perjalanan hidup kita. Dengan bergantinya tahun sering juga memberi rasa sedih bercampur haru, karena bagaimanapun dalam satu tahun kemarin telah memberi warna-warni pengalaman hidup. Namun demikian kita tidak boleh larut dengan kegalauan, justru kita harus optimis dengan spirit tinggi untuk menghadapi tahun mendatang.
Dalam menyikapi bergantinya tahun banyak cara yang dilakukan oleh masing-masing orang, ada yang menghabiskan malam tahun baru dengan kehingarbingaran di tempat perayaan yang telah ditentukan, ada yang merayakan di rumah atau sekedar kumpul dengan warga atau ada yang _bermuhasabah_, dengan melakukan perenungan mensyukuri keseluruhan waktu dan hidup yang telah diberikan sang pencipta sejak kelahirannya hingga saat ini.
Tahun Baru Momen Bersyukur
Syukur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan pertama, sebagai rasa terima kasih kepada Allah SWT dan kedua, untunglah (menyatakan perasaan lega, senang dan sebagainya). Dalam kaitannya dengan pergantian tahun maka kita wajib menyatakan syukur dengan lisan. Bahkan syukur itu bukan sekadar kerja lisan melalui _tahmid_ kosong. Syukur merupakan kesadaran atas hadirnya nikmat Allah yang diekspresikan secara lisan dan perbuatan. Hal ini juga sebagaimana yang disampaikan Imam Qusyairi, syukur atas nikmat Allah diucapkan dengan mulut dan disadari dengan hati. Sedangkan sebagian ulama membagi syukur dengan tiga ekspresi, pengakuan dengan lisan atas nikmat Allah, kepatuhan oleh anggota badan atas ibadah yang diperintahkan, dan syukur hati dengan _musyahadah_. (Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H; 97-98). Oleh karena itu sangat penting kita mendedikasikan seluruh kehidupan kita dengan bersyukur. Seluruh sisi kehidupan ini adalah _nikmat_ dan kenikmatan akan langgeng bahkan bertambah dengan _syukur_, namun dalam kehidupan Allah juga memberikan ujian dan cobaan (_musibah_) bagi setiap insan beriman. Maka dalam menghadapi musibah hanyalah dengan _sabar_.
Pentingnya Syukur dalam Kehidupan
. Orang yang bersyukur akan jauh lebih produktif. Karena mereka tahu memanfaatkan _resources_ dan peluang yang ada. Orang yang selalu mengeluh akan menghabiskan waktunya menyesali diri. Berlama-lama dalam nestapa membuat kita tidak siap menangkap peluang berikutnya. Orang yang bersyukur akan memanfaatkan apa yang dimiliki saat ini, sekecil apapun itu, sebagai bekal untuk terus maju.
Orang yang bersyukur itu lebih bahagia dan optimis. Sementara orang yang pesimis akan sibuk meratapi kegagalan dan nyinyir akan kesuksesan orang lain, orang yang pandai bersyukur emosinya akan lebih stabil, sigap mencari solusi, melokalisir persoalan bukan melebarkannya kemana-mana, dan taktis mengatur strategi. Dengan segala keterbatasannya, orang yang bersyukur akan membuat skala prioritas. Siapapun tidak akan suka dengan orang yang selalu mengeluh, dan kalau dia punya problem seolah hanya dia satu-satunya di dunia orang yang punya masalah, dan semua orang harus memperhatikan masalahnya. Orang seperti ini tidak akan produktif berkarya, dan tidak akan bertambah nikmat dari Allah. Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7).
Ayat di atas sangat nyata dan membumi. Dalam bahasa Arab, kata "syukur" berarti membuka dan menampakkan, dan lawan katanya adalah "kufur" yang bermakna menutup dan menyembunyikan. Ini artinya hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan cara menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendakinya oleh pemberinya, juga dengan cara menyebut-nyebut pemberinya dengan baik. Dengan demikian, orang yang kufur terhadap nikmat Allah bukan saja tidak mengakui berbagai kenikmatan yang Allah berikan tapi cenderung untuk menutupi dan menyembunyikannya. Itulah sebabnya Allah menegaskan, "Dan sedikit di antara hamba-hambaKu yang bersyukur" (QS Saba:13) dan di ayat lain Allah berfirman, "Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" (QS Yusuf: 38).
Bersyukur itu manfaatnya akan kembali kepada kita. Al-Qur’an sudah memberi sinyal yang teramat jelas, "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS Luqman: 12) Dalam Hadits Qudsi diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari (Sahih Muslim, Hadits No. 2577), "Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya memiliki kalbu seperti kalbu seseorang di antara kalian yang paling bertakwa, tiadalah hal tersebut menambahkan sesuatu dalam kerajaan-Ku barang sedikitpun". Dalam hadts yang lain, "Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya berdiri di suatu lapangan, kemudian mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap orang apa yang dimintanya, tiadalah hal itu mengurangi kerajaan-Ku barang sedikit pun, melainkan sebagaimana berkurangnya laut bila dimasukkan sebuah jarum ke dalamnya". Perbendaharaan Allah amat luas. Bersyukur pada pemberianNya itu tidak akan menambah sesuatupun di sisiNya, tapi justru akan menambah rahmatNya untuk kita. Kita yang membutuhkan syukur, bukan Allah Swt. Allah berfirman dalam QS al-Baqarah: 152 “Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku, dan jangan kufur (dari nikmat-Ku).” Ayat ini begitu padat menggabungkan tiga konsep sekaligus: dzikir, syukur dan kufur. Mengingat Allah (_berdzikir_) akan membawa kita kepada rasa syukur, sebaliknya orang yang lalai dari mengingat Allah, di mana setiap punya masalah dia menjadi _kufur_ nikmat. Dia jadi lupa akan berbagai nikmat yang sudah Allah berikan sebelumnya. Konsep syukur yang begitu dahsyat di atas, sayangnya begitu tiba di tengah-tengah kita menjadi dipalingkan maknanya. Kita seolah mensyukuri kegagalan orang lain. Mungkin ini sebabnya kita sulit menjadi bangsa yang maju karena kita keliru menerapkan makna syukur. Kita diperintah oleh Tuhan untuk menyebarkan nikmat yang kita peroleh sebagai tanda syukur (QS. al-Duha: 11). Dengan menyebarkannya, maka kita telah berbagi kebahagiaan dan energi positif ini akan menular kepada orang lain. _Tahadduts bin ni'mah_ ini berbeda dengan ujub, kesombongan diri atau sekadar pamer, karena niat dan tujuannya berbeda sama sekali. Apalagi, bersyukur itu tidak harus menunggu nikmat yang ‘luar biasa’. Apa yang kita raih, sekecil apapun, patut disyukuri, dan diceritakan (dengan penuh rasa syukur). Do not underestimate what you already have (Jangan meremehkan apa yang anda miliki). Dalam bahasa agama, alhamdulillah 'ala kulli hal (Puji Tuhan dalam segala kondisi) Tapi, alih-alih menebar energi positif, mengapa kita justru sering mendapat reaksi negatif dari mereka yang menerima berita baik tentang kita. Inilah penyakit kronis SMS (Senang Melihat orang lain Susah dan Susah Melihat orang lain Senang) yang harus kita lawan. Mau diartikulasikan sedemikian rupa dan mau ditutupi dengan kata-kata bersayap sekalipun, orang lain bisa merasakan, bagaimana reaksi negatif yang kita lontarkan. Jadi, jalan keluarnya, sederhana saja. Rasul mengingatkan, "Perumpamaan kalian dalam hal kasih sayang itu bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam" (HR Muslim). _Mafhum mukhalafah_ nya ialah kalau ada anggota tubuh yang senang, maka sekujur tubuh juga seharusnya senang! Karena itu, saran saya, kalau ada kawan yang dapat kenikmatan atau dapat rezeki, maka kita pun sebaiknya segera ikut bersujud syukur. Cara praktis ini bukan saja akan memadamkan penyakit hati, seperti iri hati dan dengki terhadap rezeki orang lain, tapi juga menyebarkan energi positif.
Imam al-Ghazali juga mengingatkan kita semua bahwa cara bersyukur kepada Allah itu lewat hati, dengan lisan dan dengan amal perbuatan. Mari kita memaafkan kesalahan hari kemarin, bersyukur pada apa yang diraih hari ini, dan berdoa untuk masa depan yang lebih baik. Itulah cara menitipkan hidup untuk menuju kepadaNya.
Mengucap syukur atas kesempatan untuk memulai lembaran baru
dengan menjadikan
harapan untuk menjadikan rasa syukur sebagai panduan hidup sepanjang tahun. Tahun Baru bukan hanya tentang waktu yang berlalu, tetapi tentang bagaimana kita menghadapinya.
_Wallahu a'lam bi showab_
_Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, wa ,'ala alihi wa sohbihi wa sallim ajma'in_