*Taat Pemimpin*
*Taat Pemimpin*
oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.
Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo
Hari ini Minggu 20 Oktober 2024 adalah hari yang dinanti seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, mereka akan setia duduk di depan tv dan sudah tidak sabar ingin menyaksikan siaran langsung (_live_) pelantikan Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan yang telah dinyatakan pemenangnya sejak bulan Juni 2024 yang lalu.
Setelah usai dari perhelatan pesta demokrasi untuk memilih presiden, ada hal-hal yang perlu bahkan wajib kita perhatikan mengenai bagaimana pandangan syariat Islam dan sikap yang harus kita jalani terhadap pemimpin yang terpilih secara sah dan demokratis di negara kita tercinta, Indonesia.
Satu hal yang sangat kita syukuri dalam _suksesi_ kepemimpinan untuk kali kedua setelah pemilihan diadakan secara langsung adalah terjaminnya keamanan (_safety_) keadaan ini sangat mahal dan menunjukkan bangsa kita cukup dewasa dalam penyelenggaraan pilihan Presiden, sekali lagi kita harus bangga dan bersyukur atas prestasi ini.
*Menaati Pemimpin dalam Kebajikan*
Taat kepada pemimpin adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Di antaranya Allah berfirman,
_Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu_ .” (Q.S. An-Nisa’ 4: 59)
Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah taat pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh _ta’atilah_ karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (_ittiba_') dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan ta’at. Makna _zhohir_ (tekstual) dari hadits ini adalah kita wajib mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun mereka bermaksiat kepada Allah dan (_asal_) tidak menyuruh kita untuk berbuat maksiat kepada Allah. Karena terdapat hadits Nabi ` dari Hudzaifah bin Al Yaman.
Beliau bersabda: "_Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu? ”Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847_. Lihat penjelasan hadits ini dalam _Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih_, 15/343, _Maktabah Syamilah_.
Padahal menyiksa punggung dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syari’at, tanpa ragu lagi termasuk maksiat. Seseorang tidak boleh mengatakan kepada pemimpinnya tersebut, “ _Saya tidak akan ta’at kepadamu sampai engkau menaati Rabbmu_.” Perkataan semacam ini adalah suatu yang terlarang. Bahkan seseorang wajib menaati mereka (pemimpin) walaupun mereka durhaka kepada Rabbnya. Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk _bermaksiat_ kepada Allah, maka kita dilarang untuk mendengar dan menaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah. Oleh karena itu wajib ta’at kepada-Nya. Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada kewajiban mendengar dan ta’at. Rasulullah bersabda,
“ _Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)_ .” (HR. Bukhari no. 7257). Rasulullah juga bersabda: _Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat_.” (HR. Bukhari no. 7144).
*Bersabar Terhadap Pemimpin yang Zhalim*
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan: “Hukum mennaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zhalim (kepada kita). Jika kita keluar dari menaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezhaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (_al jaza’ min jinsil ‘amal_). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam _istigfar_ dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita. Perhatikanlah firman Allah berikut,
“ _Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu_).” (QS. Asy Syura 42: 30)
Allah juga berfirman, “ _Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan._ ” (Q.S. al-An’am [6]: 129)
Apabila rakyat menginginkan terbebas dari kezaliman seorang pemimpin, maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman.
*Menghindari Fitnah dan Pertumpahan Darah*
Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" _Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim_ ." (HR. Tirmidzi)
Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak bersalah menjadi korban.
Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada _amar ma'ruf nahi munkar_. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syari'at yang mulia ini. Sahabat ' _Amr bin 'Ash_ berkata kepada putranya, Abdullah: "Wahai anakku, pemimpin yang adil itu lebih baik dibandingkan dengan hujan yang deras, macan yang buas lebih baik daripada pemimpin yang zalim sedangkan pemimpin yang sangat zalim itu masih lebih baik dibandingkan dengan fitnah yang permanen (dikarenakan tidak ada pemimpin sama sekali).”
Syekh 'Ali Jum'ah, mantan mufti Mesir menyitir maqolah Imam Malik: “(Tetaplah menaati) pemimpin yang zalim dan jangan sampai terjadi fitnah yang berkepanjangan tanpa akhir". Lalu beliau berkomentar:
"Pada masa ini kita mendapati seseorang yang menyempal dari kita seraya berkata: "Pemimpin sudah berbuat kesalahan bahkan fitnah (kekacauan dengan tidak mengakui adanya pemimpin yang sah untuk ditaati) itu lebih baik dibandingkan dengan pemerintah yang zalim." Komentar kami (Syekh Ali Jum'ah) untuk orang ini: "Anda termasuk golongan Khowarij, karena yang dikehendaki adalah kerusakan di muka bumi."
*Amar Ma'ruf Nahi munkar kepada Pemimpin*
Berikut ini adalah dalil kebolehan amar ma'ruf, nahi munkar dengan cara mengkritik pemimpin atau pemerintah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: " _Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak disisi pemimpin yang zalim_". (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah). Namun demikian, _amar ma'ruf nahi munkar_ harus dengan lemah lembut dan pelakunya harus mempunyai ilmu yang cukup agar bisa bertindak dengan benar.
Al-Imam _Sufyan ats-Tsauri_
"Seseorang tidak boleh melakukan amar ma'ruf nahi munkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, berilmu sesuatu yang diseru dan dicegahnya." (_Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami'ul Ulum wal Hikam_). Dikisahkan ada seseorang yang akan beramar _ma'ruf dan nahi munkar_, lalu dia meminta pendapat kepada seorang ulama agar diizinkan dengan cara yang keras karena pelakunya itu sudah dianggap keterlaluan, namun sang ulama menjawab bahwa kamu tidak lebih baik dari Nabi Musa as dan orang yang akan kamu nasihati tidak lebih jahat dari Fir'aun, tapi Allah di dalam Al-Qur’an tetap memerintahkan _Nabi Musa as dan Nabi Harun as_ untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Fir'aun:
" _Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut._ (QS. Thaha 43-44).
Kemudian kita tidak boleh membenarkan kebohongan dan mendukung kezaliman mereka. Dari _Ka'ab bin Ujroh radhiyallahu 'anhu_ ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar mendekati kami, lalu bersabda:
" Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kezaliman mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat)." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i).
*Larangan Memberontak dan Menyibukkan Diri Mencela dan Mencaci Pemimpin*
Al-Imam _Abu Ja'far Ath-Thahawi_ rahimahullah menjelaskan di antara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah, "Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan." (_Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi Al-Hanafi, dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah_)
Al-Imam _Al-Hafizh Ibnu Hajar_ rahimahullah juga menukil ijma'. _Dari Ibnu Batthal_ rahimahullah, ia berkata: "Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak." ( _Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 13/7_ ). Al-Imam _Al-Habib Abdullah bin Alawy Al Haddad_ dalam kitabnya ' _Adda'wah Attammah_ menjelaskan tentang sikap yang harus dilaksanakan kepada pemimpin: "Jika seorang pemimpin membawa kemaslahatan untuk rakyat, bersungguh-sungguh dalam memberi perhatian kepada mereka, dan mempunyai kinerja yang bagus maka rakyat harus membantunya dengan berdoa untuknya serta memujinya atas kinerjanya yang bagus"
Jika ia membawa kerusakan, mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, maka kewajiban kita -sebagai rakyat- adalah mendoakan, semoga Allah segera memperbaiki keadaan pemimpin kita itu, memberi ia petunjuk kepada jalan yang benar, dan memberinya sifat istiqamah dalam hal-hal yang diridhai Allah dalam kepemimpinannya. Dan janganlah kita sibuk mencela dan berdoa buruk atas dirinya, karena itu semua malah akan menambah kerusakan dan kezalimannya dan kita sendiri yang akan merasakan dampak-dampak buruknya.
Berkata Al-Imam _Fudhail Bin Iyadh_ rahimahullah:
"Andai saja aku mempunyai satu doa yang pasti dikabulkan Allah, maka aku akan menjadikannya (untuk berdoa yang baik) untuk pemimpinku, karena jika pemimpin kita baik, maka negara akan aman dan masyarakat tentram". Allah berfirman dalam sebagian _hadits qudsi_ :
"Aku adalah Maha Raja. Hati para raja ada di genggamanku. Maka barang siapa yang taat padaku, akan aku jadikan mereka (para raja atau pemimpin) nikmat baginya, dan barang siapa yang melanggar perintah-Ku akan aku jadikan mereka sebagai musibah atas dirinya. Maka janganlah kalian sibuk mencela dan mencaci maki pemimpin-pemimpin kalian, akan tetapi mintalah padaku, maka akan aku lembutkan hati mereka untuk kalian".
Semoga Allah menguasakan kepada kita pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Nya, mau mengasihi kita dan menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun _wa rabbun ghafuur_ _wallahu a'lam_.
Terima kasih Bapak _Joko Widodo_ - Selamat bekerja Bapak _Prabowo_ , berikan keikhlasan kami untuk selalu mendoakan para pemimpin kami.
_Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi, ajma'in_
Selamat mengikuti siaran langsung _live_ pelantikan dan penyimpanan Presiden